Tantangan Guru usai hadapi Covid-19
PERUBAHAN kondisi selama pandemi Corona Virus Disease 19 (COVID-19) telah memicu peningkatan kecepatan koordinasi inovasi dan penalaran buatan di ranah persekolahan. Pelatihan telah menjadi salah satu bidang yang paling signifikan setelah bidang Kesehatan dan Ekonomi. Banyak perubahan yang mendadak dan memerlukan variasi, mulai dari metode pembelajaran, media, hingga membutuhkan dukungan komponen masyarakat untuk membantu memulihkan kondisi kepelatihan agar tidak ada Lost Generation untuk usia yang lebih muda nantinya. Hal ini menyebabkan instruktur harus lihai di masa Pandemi Covid-19 ini. Dalam jangka panjang kondisi pandemi mulai berkurang sehingga sekolah mulai menjalankan prinsip-prinsip baru, dan pengaturan pemerintah yang sudah mulai dilakukan terhadap 100 persen pembelajaran jarak dekat dan pribadi. Hal itu disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Suharti. Menurut Suharti, pengaturan ini dilakukan karena pandemi Covid-19 secara bertahap mulai membaik sejak akhir tahun 2021. "Dalam beberapa waktu terakhir tahun 2021, ada banyak kemajuan dalam keadaan pandemi (Covid-19) yang juga telah berkembang, situasi PPKM juga telah berkurang," kata Suharti dalam "Online kelas Penyesuaian Kebijakan Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Tahun 2022, Senin (3/1/2022). Selain itu, kata Suharti, dampak dari pandemi ini banyak siswa SD yang putus sekolah. Selain itu, absennya pergerakan siswa selama rentang waktu Sekolah Online juga menjadi sorotan bagi para wali, pengajar dan pejabat publik. "Misalnya, jumlah anak putus sekolah untuk siswa kelas bawah meningkat beberapa kali lipat dibandingkan tahun 2019," kata Suharti. Banyak wali merasa bahwa selama pencarian di web atau berbasis web yang dilakukan dari rumah tidak meningkatkan kapasitas anak, dan merasa seperti anak-anak tidak pergi ke kelas sehingga beberapa wali memilih untuk tidak menyekolahkan anak mereka.Bukan hanya jemputan internet di masa pandemi Covid-19 dilakukan, terjadi penurunan kapasitas belajar siswa, dan lebih jauh lagi dari hasil kajian yang diarahkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ristek menemukan bahwa ada berbagai bahaya yang dialami mahasiswa selama masa pandemi Covid-19. Ini mengingat maraknya perilaku kekerasan di rumah, seperti halnya bahaya perkawinan anak di bawah umur, rayuan anak-anak sudah meluas cukup besar," kata Suharti. Alasan-alasan inilah yang menjadi dasar pemikiran Kemendikbud mempercepat pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka 100 persen. Hal tersebut telah diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tentang Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, tertanggal 21 Desember 2021. Substansi SKB 4 pendeta, secara spesifik: Sekolah dapat menyelesaikan pembelajaran mata ke mata secara penuh pada batas 100 persen secara konsisten. Sekolah yang diperbolehkan menerapkan 100 persen pembelajaran tatap muka adalah sekolah yang berada di daerah yang telah ditetapkan sebagai daerah pada PPKM tingkat 1 dan 2 dan ketercapaian imu- nisasi porsi 2 untuk fakultas pengajaran di atas 80% dan daerah setempat yang lebih tua di atas. Ini juga akan menjadi ujian tersendiri bagi para pengajar, karena menurunnya daya tampung siswa membuat para pendidik harus ekstra dalam mendidik, hal ini dikarenakan selama pembelajaran berbasis web siswa hanya mengandalkan pembelajaran melalui web, tanpa perlu mencari lebih banyak untuk menyelesaikan belajar dan siswa jarang bahkan tidak pernah maju lebih dari mengerjakan tugas-tugás yang diberikan oleh instruktur. Wali harus lebih fokus pada hal ini, selama pembelajaran berbasis web, wali harus bagaimana anak-anak belajar. Setelah' disimpulkan bahwa pembelajaran mata ke mata dapat dilakukan 100 persen sebagian besar siswa mengalami mentalitas belajar yang sama sekali berbeda. Di sini pengajar yang merupakan penghibur utama untuk lebih mengembangkan kapasitas belajar siswa akan lebih banyak mendidik untuk pemulihan belajar siswa ketika memasuki kerangka waktu Pembelajaran Tatap Muka. Saya sebagai mahasiswa yang berkonsentrasi pada Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sependapat bahwa peran pengajar dalam pembelajaran 100 persen tatap muka ini akan lebih dituntut untuk lebih dinamis, inventif, dan imajinatif dalam membuat pembelajaran untuk lebih mengembangkan kapasitas belajar siswa. Instruktur mungkin memiliki pilihan untuk melaksanakan proyek pelatihan atau otodidak untuk siswa di luar jam sekolah, untuk memberikan lebih banyak belajar bagaimana siswa, dengan sistem kunjungan rumah untuk mengurangi kerumunan yang terjadi di luar waktu pendidikan. Di tengah pandemi Covid-19, kerangka sekolah kita harus siap untuk mengambil lompatan menuju pembelajaran perubahan untuk semua siswa dan semua instruktur. Kita memasuki masa lain untuk membangun imajinasi, mengasah kemampuan siswa, dan mengembangkan kualitas diri dengan mengubah kerangka, cara pandang dan contoh kerjasama dengan inovasi Guru pada dasarnya harus melibatkan inovasi untuk membantu usaha mereka dalam mengembangkan lebih lanjut kapasitas siswa, penemuan yang dilakukan sekarang tidak akan kembali ke pandangan dunia lama di mana instruktur tidak mengaktifkan inovasi untuk tujuan membantu kewajiban mereka. Di tengah pandemi Covid-19 ini, kerangka sekolah kita harus siap untuk mengambil lompatan menuju pembelajaran perubahan untuk semua siswa dan oleh semua instruktur. Kami memasuki periode lain untuk membangun daya cipta, mempertajam kemampuan siswa, dan mengembangkan kualitas diri dengan mengembangkan kerangka kerja, sudut pandang, dan contoh komunikasi kami dengan inovasi. Karena belajar harus terus berjalan dalam kondisi apapun. Oleh karena itu, instruktur harus siap dan mahir berinovasi.Karena belajar harus terus berjalan dalam kondisi apapun. Selanjutnya, pendidik harus siap menghadapi dari dekat dan penemuan pribadi yang 100 persen. Pendidik harus pandai memecahkan persoalan atau persoalan yang terjadi karena pembelajaran internet dan lebih mengembangkan pembelajaran secara langsung sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan tepat. Terlebih lagi menjamin bahwa kapasitas dan sifat pembelajaran siswa menurun dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka. Di musim Pandemi ini tidak ada yang pasti, dan yang pasti adalah perubahan itu sendiri. Sehingga segala perkembangan harus disikapi dengan persiapan, sigap dan cepat.
Sumber:Evi Safitri-Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Komentar
Posting Komentar